Bola.net - Pertandingan derby PSIM Yogyakarta melawan PSS Sleman yang berlangsung di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Jumat sore diwarnai kerusuhan sehingga belasan penonton menjadi korban dan harus dibawa ke rumah sakit karena menderita luka-luka.
Pertandingan yang semula berlangsung cukup sportif tersebut akhirnya terpaksa dihentikan pada menit ke-63 saat kedudukan antara kedua tim imbang 1-1 setelah polisi dari satuan Brimobda DIY menembakkan gas air mata ke arah penonton yang berada di tribun timur.
Sekitar 15.000 penonton yang membirukan Stadion Mandala Krida pun menjadi panik dan berusaha menyelamatkan diri setelah satuan Brimob melakukan lebih dari sepuluh kali tembakan gas air mata.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, terdapat 13 orang pendukung PSIM yang biasa disebut Brajamusti dilarikan ke Rumas Sakit Umum Daerah (RSUD) Wirosaban, dan tiga penonton lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda karena mengalami patah kaki, salah satu di antaranya adalah anak kecil.
"Kami tidak tahu sebabnya, tiba-tiba saja polisi itu menembakkan gas air mata ke arah penonton," kata Alex pendukung PSIM yang kebetulan berada di tribun bagian timur.Pelajar salah satu SMK swasta tersebut menuturkan, sebelum terjadi tembakan gas air mata dari Brimob, memang terjadi aksi lemparan batu ke arah stadion. "Tetapi, kami anggap hal itu masih wajar. Setiap pertandingan memang seperti ini," lanjutnya.
Hal senada juga diungkapkan Karjo. "Sebelumnya, sama sekali tidak ada peringatan dari aparat. Tiba-tiba sudah ada tembakan ke arah penonton," katanya.
Menurut dia, ulah dari penonton yang melakukan aksi saling lempar benda ataupun kata-kata kasar adalah hal biasa dalam olah raga sepak bola sehingga tidak perlu disikapi terlalu berlebihan oleh aparat keamanan.
"Ada anak-anak di antara penonton itu. Justru merekalah yang jadi korban. Ini sudah terlalu berlebihan. Suporter bukan teroris, dan ini juga bukan aksi demo," katanya.Sementara itu, Ketua DPRD Kota Yogyakarta Henry Koencoroyekti menyatakan, aksi dari aparat Brimob tersebut sudah terlalu berlebihan dan sangat disayangkan.
Ia menegaskan, selaku anggota Dewan Pembina PSIM akan menindaklanjuti kasus tersebut dan meminta ada pengusutan tentang aksi penembakan gas air mata ke arah penonton.
"Kami akan melayangkan surat ke Poltabes Yogyakarta untuk mengusut kasus ini. Tindakan dari aparat menunjukkan bahwa sikap polisi masih belum simpatik," katanya.
Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Pertandingan Sukamto juga menegaskan agar akar permasalahan dari tindakan aparat Brimob DIY tersebut diusut dengan jelas.
"Saya melihat, perilaku suporter itu masih wajar dan belum pantas untuk diberi tembakan gas air mata," katanya.
Sedangkan General Manajer PSIM Nadjib M Saleh menyatakan, PSSI harus dapat melihat masalah yang terjadi secara utuh sebelum menjatuhkan sanksi.
"Ini sudah masuk dalam force major, dan PSSI harus melihat kesalahan itu ada di mana. Ini semua adalah kesalahan dari aparat keamanan," katanya yang juga menyatakan bahwa petugas keamanan terlalu over acting dengan menembakkan gas air mata langsung ke arah penonton.Ia berharap, petugas keamanan dapat melakukan pendekatan dengan cara lain untuk menghentikan aksi penonton yang melakukan pelemparan ke arah lapangan.
Nadjib berharap, dalam pertandingan PSIM berikutnya, tidak akan melibatkan pihak Brimob untuk melakukan pengamanan.
Saat terjadi kepanikan di tribun penonton, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto sempat berusaha meredam kepanikan yang ada dengan meminta agar aparat keamanan tidak melanjutkan tembakan.
Ia langsung menyambar pengeras suara yang ada di stadion dan menyatakan dengan nada memohon bahwa penonton yang terkena gas air mata tersebut adalah anak-anak Yogyakarta.
Penonton yang terlanjur marah kepada aparat keamanan, langsung melakukan perusakan di stadion dengan merusak tribun, tempat pemain dan juga merusak kaca ruangan VVIP stadion.
Kepanikan dan aura kerusuhan masih tetap terasa selama satu jam berikutnya, dan pasukan Brimob yang melakukan tembakan gas air mata menunggu di tengah lapangan. (ant/row) | www.bola.net
BR***B KURANG AJAR.....
BalasHapusBenar, bahwa tindakan apar keamanan sudah berlebihan.
BalasHapusNamun perlu dilihat juga bahwa akar dari tindakan aparat adalah akibat ulah suporter PSIM, Brajamusti, yang arogan dan anarkis dengan melempar batu kearah lapangan.
Jika batu tersebut hanya masuk lapangan mungkin tidak masalah, namun pada pertandingan itu, batu-batu yang dilemparkan tersebut mengenai lebih dari satu orang pemain PSS, dan bahkan batu pun menghujani aparat keamanan.
Jangan asal menyalahkan aparat keamanan.
Pihak-pihak terkait harus melihat dan menginvestigasi penyebab bukan cuma pada hari pertandingan, namun harus dilihat lebih jauh sebelum itu. Sebagai contoh perlu dilihat perseteruan dan cemoohan yang ada di bagian testimoni, di website slemania. Berbagai ancaman sudah disampaikan oleh Brajamusti kepada slemania jika mereka datang ke stadiun mandala krida. Dan itu terbukti dengan banyaknya batu yang bisa lolos masuk ke dalam stadiun.
Kejadian lempar barang ke lapangan sudah sangat biasa di liga sepakbola Indonesia, namun biasanya hanya gelas atau botol air mineral, bukan batu seperti pada pertandingan ini.
PSSI harus jeli. PSIM harus instrospeksi dan mengakui bahwa awal dari keributan adalah ulah dari (oknum) suporternya, sehingga jika nantinya ada sangsi diberikan oleh PSSI, mereka harus rela menerima.
Aparat keamanan yang over acting pun harus ditindak tegas pula oleh kesatuannya, sehingga kejadian serupa tidak akan terulang dan penonton di stadiun pun merasa nyaman dan aman karena 'teramankan' oleh aparat keamanan, bukan justru justru sebaliknya, bertambah ancaman.
akar permasalahan dari semua kejadian adalah ada oknum suporter psim yang tidak pernah dewasa dan kampungan, yang menganggap sepak bola identik dengan lempar-lempar adalah biasa juga kampungan desooo kesa keso apalagi disaksikan seluruh indonesia lewat siaran langsung jelas-2 aparat keamanan diserang oleh oknum dan berusahan melerai panitia membelokkan arah menyalahkan aparat takut sangsi, sungguh kampungan gak sadar diri so semua suporter anarkis is the kampungan kampungan desoooo
BalasHapuspssi komisi banding harus bmenjatuhkan sangsi berat buat suporter psim yang kampungan dan panitia pertantingan jg diberi sangsi berat karena berusaha lari dari kenyataan menyalahkan aparat mencari kambing hitam wis deso tenan
BalasHapuskelewatan dan berlebihan...anak saya yg hanya menonton dan tidak tahu apa2, harus jadi korban,,,,kakinya luka bakar sampai paha terkena serpihan ledakan gas airmata dari aparat brimob yg luar biasa itu....sungguh tindakan aparat yg membabi buta & sangat memalukan....
BalasHapusRA MUTU BLAS GAPI
BalasHapusBM memang kurang ajar ....
BalasHapusaparat over acting..!!! tanpa tindakan preventif langsung repfesif..!!!
BalasHapusaparat tetep melakukan tugas...coba pikir aja brajamusti yg ngaku sok bersih itu nyerang aparat...mana ada yg mau diserang...pas pertandingan berlangsung juga brajamusti melempar batu terus...ngaca donk????jangan mau menang sendiri....pas maen di maguwo juga brajamusti merusak fasilitas stadion....apa itu juga salah keamana???????????????F*** B*********
BalasHapusyang SALAH adalah BRAJAMUSTAI, BUKAN Aparat !!!
BalasHapusBUBARKAN BRAJAMUSTAI !!!
gimana batu bisa masuk???dewasa lah sedikit BM..aq malu sebagai BM dari Badran..pindah Slemania wae lah..luwih jos
BalasHapuspak hery yang saya hormati..tolong dongk jng berat sebelah tangan dunk..sya menghormati anda sebagai walikota Yogya..tapi kita masih 1 Propinsi..di TV terlihat bahwa BM yg mulai melempar batu ke pemain dan aparat..gde2 bgt batuN.kena kepala bisa wasaalam...gmana nasib Slemania yang dilempari..??
BalasHapussak karepmu sing ngomong mumpung durung matiiiiiiiiii............................
BalasHapuspak wali,batu masuk itu pelanggaran berat bukan wajar,klo botol air mineral itu wajar tp ini batu pak!!!!!!!!yang jelas udah gak da niat yg baik dari sebagian besar suporter anda (brajamusti),klo aparat gak dilempar mosok aparat mbalas,dipikir pak wali jgn asal bela yg liat seindonesia gak cuma jogja!!!
BalasHapus