Jumat, 19 Februari 2010

Komdis Kenakan Sanksi Ganda Kepada PSIM

Ketua Komdis PSSI Hinca Panjaitan menyatakan, pihaknya memutuskan untuk menjatuhkan sanksi ganda kepada PSIM Yogyakarta, sebagai buntut kerusuhan yang terjadi saat menggelar laga kandang kontra PSS Sleman, 12 Februari 2010 lalu. Dikatakan Hinca, dalam sidang Komdis kemarin, PSIM harus menggelar duel tanpa penonton saat menjamu Persigo Gorontalo, Jumat (19/2), pada laga lanjutan divisi utama Liga Indonesia 2009/10.
Sedangkan dua laga lainnya lanjut Hinca, yakni kontra Mojokerto Putra (9/3) dan Persibo Bojonegoro (13/3) menjadi partai usiran, yang harus digelar di luar kandang dan tanpa dihadiri penonton dengan jarak minimal 100 km dari Kota Yogyakarta.
“Selain itu, Komdis juga mewajibkan Panpel PSIM membayar ganti rugi kepada pengelola Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, menyusul kerusakan beberapa aset akibat kerusuhan yang terjadi,” kata Hinca kepada wartawan usai sidang tadi malam.
Ditambahkan, hukuman yang diterima PSIM memang lebih berat dari yang diberikan kepada Persik Kediri. Hal tersebut karena pada laga di Yogyakarta itu tidak selesai, yang membuat Komdis berkesimpulan panpel telah gagal total menggelar pertandingan dengan baik.
Seperti diketahui, pertandingan PSIM kontra PSS terhenti pada menit ke-66 dalam kedudukan sementara imbang 1-1 menyusul aksi pelemparan yang dilakukan oleh penonton kepada para pemain, yang membuat aparat keamanan bertindak tegas.
Keributan semakin tidak terkendali, sehingga aparat kepolisian memutuskan untuk melepaskan tembakan gas air mata, yang justru menyebabkan pertandingan tidak bisa dilanjutkan dan dihentikan wasit.
“Sesuai aturan, wasit tidak bisa menyudahi pertandingan karena waktunya masih menyisakan 24 menit. Kecuali, jika pertandingan tinggal menyisahkan waktu sepuluh menit. Karena itu, lanjutan laga ini kami serahkan kepada PT Liga Indonesia (Liga),” tandas Hinca.

Oleh Yuslan Kisra | www.goal.com

12 komentar:

  1. Barito Putra ingin juga ke liga joss20 Februari 2010 pukul 13.31

    PSIM itu aneh, minta diberi keringanan sanksi agar tiadk keluar dana lebih banyak jika bermain di luar kota.
    Itulah yang namanya sanksi, pasti merugikan buat yang mendapatkannya.
    Ayolah manajemen tim2 bola, jika ingin untung ya modal dikit lah, jangan maunya untung besar tapi ga mau membina suporternya.

    Aparat keamanan pada perandingan itu juga jangan tidak 'disalahkan'. Jelas2 bahwa gas airmata salah satu fungsinya adalah untuk membubarkan kerumunan massa yang tidak terkontrol, bukan untuk menghentikan lemparan batu. Untuk menghentikan lemparan batu lebih tepat pakai peluru karet, namun tentunya akan sanngat ekstrim.

    manajemen tim2 bola di Indonesia dan panpel-nya, entah itu ISl amupun di liga joss, sportif dikitlah...bina pemain, bina suporter dan dapatkan untung yang banyak...

    BalasHapus
  2. barito putra,,,kalo ga tau kejadian yang sebenarnya ga usah nyocot kwe!!!!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  3. BARITO PUTRA BUSUK, PENGEN KE LIGA JOSS NYUAP PSSI DULU NJING. .

    BalasHapus
  4. Jogja yg terkenal kota pendidikan hanya slogan aja. terbukti suporter jogja seperti kata-kata selalu kotor.

    BalasHapus
  5. barito putra...!!!
    jangan menilai orang lain dulu,nilai dulu dirimu sendiri....,,

    stadion mu tu jelek , mbok di ganti...
    stadion jelek mau ke liga joss...

    MIMPI.....,,,

    BalasHapus
  6. sudah2 dsni qt saudara..hargai pendapat org lain...

    BalasHapus
  7. wawan fans brajamusti jauh22 Februari 2010 pukul 14.16

    jangan saling menjelek-jelekkan begitu antar suporter... buktikan kl kita suporter yg berpendidikan... untuk komdis jangan hanya dilihat dari tindakan suporternya saja donk, diusut juga dari aparat keamanan apakah sudah benar tindakan pengamanannya.karena saya pernah melihat yang lebih buruk lagi seperti di surabaya dan di kediri suporter lebih brutal lagi dan saya g melihat aparat sampai mengeluarkan tembakan gas air mata apalagi suporter hanya melakukan pelemparan batu...hidup PSIM

    BalasHapus
  8. Kejadian sebenernya sesuai yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri: permainan dimulai dari sisi tribun timur BM yang ada di bawah (sentelban) mulai melempari Slemania (Slemania tidak terprovokasi entah takut ato gimana saya nggak tahu) hal itu berlangsung cukup lama trus setiap lemparan ke dalam di sisi timur mulai ada lemparan (dengan menggunakan batu) salah satunya mengenai kepala pemain PSS, pertandingan terus berlanjut. sampai pada menit ke 6e ada lemparan batu mengenai punggung pemain PSS dilanjutkan lemparan-lemparan lainnya memakai batu dan beton (ada yang sebesar lengan orang dewasa) wasit meminta aparat untuk melindungi pemain di lapangan agar pertandingan bisa dilanjutkan. Aparat berusaha membuat pagar betis untuk melindungi pemain yang akan melakukan lemparan ke dalam. Lemparan tidak berhenti bahkan ada yang mengenai 2 aparat bahkan ada aparat yang kena bagian mulut sampai rompal giginya (versi media lokal Jogja) dimulai dari situ aparat berusaha mengejar pelaku tapi kondisi makin tidak terkendali karena BM terus melempar dengan batu, botol kaca, dll. lalu ditembakkanlah gas air mata itu ........... silakan mencermati siapa biang keladinya. Sebagai warga kota Jogja saya merasa malu dengan kejadian itu..... mari kita jadikan sanksi ini sebagai bahan pemikiran kita. harus kita akui kita telah gagal membina adek-adek kita menjadi suporter yang santun. Terima Kasih. -Andi Setiawan Kota Baru Yogyakarta-

    BalasHapus
  9. kenapa suporter PSIM Terkenal Suka bikin Rusuh...
    harus nya Brajamusti malu dengan suporter dari 2 tetangga nya (paserbumi,Slemania) yg notabe nya dari pinggiran Kota Jogja....
    Apa itu Gambaran Tingkah laku Tim dari Kota...
    Bubar kan saja BrajaMusti kalau selalu bikin rusuh.
    kasihan lah pada PSIM yang selalu menerima akibat dari prilaku Brajamusti..
    kita bersaudara...dan kita cinta perdamaian..kita mendukung sepenuh hati untuk Tim2 dari kota Yogyakarta tercinta ini untuk maju ke ISL...
    tim apa pun akan membuat kita sebagai warga Yogyakarta semankin bangga
    kita semua adalah keluarga sedarah (Brajamusti,Slemania,Paserbumi)yg di mulai dari sebuah nama YOGYAKARTA.
    Alwys freedom to football

    (pecinta sepakbola memimpikan semua suporter bersatu lawan anarki dalam sepakbola Yogjakarta dan Indonesia)

    BalasHapus
  10. kalo saya mencermati pemberitaan di media dengan siaran langsung dari televisi, memang benar adanya apa yang dibilang oleh sodara saya diatas.Kejadian persis sama dengan apa yang dikatakan.

    Aparat hanya menjalankan tugas sesuai prosedur. dan berusaha berada dalam fungsinya sebagai pelindung keamanan bagi pemain di lapangan. Namun apa daya, para suporter PSIM (BRAJAMUSTI) tidak bisa meredam emosinya dan melampiaskan emosi mereka hingga akhirnya polisi pun jadi ikud korban...

    Terlihat bahwa para BRAJAMUSTI belum dewasa dan tidak bisa mengahargai tamu (SLEMANIA) untuk bersaing berkreatifitas sebagai suporter sepakbola bukan anarkisme yang dikedepankan.

    BalasHapus
  11. aenoza brajamusti15 Maret 2010 pukul 14.38

    yg ga tau apa 2 ga usah komentar de...

    prnah liad sepakbola d sluruh dunia yg brhenti gra2 gas aermata????

    rusuh yg pling rusuh ajh ga pernah....kcuali d luar stdion...knp kami ga mnghormati slemania???apakah slemania jg mnghormati brajamusti??ga inget dulu tridadi prnah biru??ga inget dulu yg mndukung pss sblum ad slemania siapa??

    ga beda dg derby2 yg laen,,,cntohnya the jak NJ,snex panser,bonek arema,smw wilayah yg punya tim sma besr di liga indonesia sudah wjar trjdi konflik...n smw ad sebab akibat yg hnya dketahui suporter itu sndri,,,so yg ga tau mslah sedetilny ga usah cm asal komentar...!!!!

    BalasHapus

Share |